Entah kapan sebenarnya kata Maros itu ada. Pemerintah Kabupaten menetapkan tanggal 4 Juli 1959 berdirinya sebagai Kabupaten, yakni Maros. Bentang alam-nya menyimpan berbagai kisah menakjubkan. Dari zaman prasejarah, era kerajaan, kolonial, dan hingga sekarang ini yang entah akan disebut zaman apa. Sebegitu berantakannya jika berkaca pada negara Indonesia secara luas hari-hari ini.
Cerita Bentang Alam Karst Maros-Pangkep

Mendengar kata karst, apa yang terlintas dipikiran-mu. Masyarakat yang bermukim di sekitar karst mungkin asing dengan kata karst. Masyarakat mengenalnya dengan Bulu’ Batu dalam bahasa bugis. Keberadaan karst selalu identik dengan gua, dalam bahasa bugis, Leang yang berarti gua.
Kata karst sendiri diserap dari bahasa Slovenia, krst/krast, yang berarti lahan yang berbatu. Sebelum akhirnya kata ini diadopsi dalam bahasa Jerman termasuk Indonesia, pertama kali digunakan untuk merujuk pada suatu wilayah dataran tinggi batu kapur, khususnya di perbatasan Yugoslavia/Slovenia dan Italia Utara.
Inilah bentang alam karst di Sulawesi Selatan, gagah terbentang dari Maros hingga Pangkep. Berbentuk bak menara yang menakjubkan. Batu gamping besar itu terpampang luas dan megah, berdiri dengan ketinggian 200-500 meter diatas permukaan laut.
Sebab yang biasa disebut Kawasan Karst Maros-Pangkep (KKMP). Kawasan Karst sebetulnya tidak hanya membentang di Maros dan Pangkep, sebagian di Barru dan Bone. Kawasan karst ini seluas kurang lebih 43.000 hektare. Menjadikannya dengan tower karst terluas dan terbesar kedua didunia, setelah yang ada di China Selatan.
Berkisah tentang karst Maros-Pangkep tidak cukup dari satu sisi saja. Kompleksitas karst mesti dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh, ekosistem karst. Di hutan karaenta, menyaksikan Macaca maura bergerombol, bergelantungan di pohon dan mencari makan. Monyet endemik Sulawesi, berwarna hitam dengan ekor yang sangat pendek. Lalu mengintip primata kecil dari balik dedaunan, Tarsius, primata dengan tubuh yang kecil dan mata besar. Ekornya lebih panjang dari ukuran tubuh, kira-kira 20-30cm.
Jika berkunjung ke Taman Wisata Alam Bantimurung, saat menuju air terjun, kolam disebelah kiri jalan merupakan satu sistem air karst, mengalir tak henti. Masyarakat menyebutnya air Jamala’. Keberadaan gua-gua itu menjadi saksi kehidupan prasejarah, sejumlah lukisan menghiasi langit-langit gua di kawasan karst Maros-Pangkep.
Mengalihkan pandangan kepada warga, membajak sawah, beternak sapi. Jelang malam, tangga bambu itu disandarkan pada pohon aren, memanjat dan mengambil air nira. Sebagian diolah menjadi gula merah batok, sebagiannya lagi menjadi minuman penghangat badan, bercengkrama dimalam hari, diantara bintang dan tatanan lembah, itulah karst Maros-Pangkep.
Dalam Database Karst Sulawesi Selatan (2016) oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinisi Sulawesi Selatan, proses geologi menandai awal pembentukan karst Maros-Pangkep telah dan sedang berlangsung sejak ratusan juta tahun yang lalu. Hamparan karst yang terlihat saat ini berupa landscape yang khas, gua-gua dan mata air, serta dolina atau lembah menjadikan keragaman geologi yang menakjubkan.

Ratusan jenis flora dan fauna mendiami kawasan karst Maros-Pangkep. Beberapa diantaranya khas dan endemik, yang berarti hanya dapat ditemukan pada tempat itu, keterbatasan itu dapat meliputi blok karst, landscape, pulau, hingga benua. Sungguh keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Tak hanya itu, tinggalan budaya prasejarah tersingkap pada landscape khas ini. Artefak, sisa makanan purba, alat berburu hingga lukisan. Bagai laboratorium pengetahuan. Jejak ini menggambarkan interaksi manusia dan lingkungan sangat erat, menghasilkan suatu keragaman budaya (culturaldiversity).
Lalu menyambangi pegunungan yang membelah perbatasan Maros-Bone, di Mallawa. Terdengar bunyi gemuruh air sungai, mengalir jernih, batu-batu hitam ditumbuhi lumut, komunitas vegetasi menyusun ekosistem hutan di ketinggian ±1.500 mdpl ini. Memandangi diri, bagai titik kecil ditengah belantara hutan pegunungan Tondong Karambu.



