
https://www.pikiran-rakyat.com/lestari/pr-0110502471/asap-kebakaran-hutan-kalimantan-mengarah-ke-bangka-belitung
Seperti tak ada kabar baik di Indonesia hari-hari ini. Lebih dari 200.000 hektare hutan dan gambut lenyap oleh api. Konsentrasi terparah di pulau Kalimantan dan Sumatera. Belum lagi di Papua juga Sulawesi. Dampaknya jelas menyerang berbagai sektor. Asap karhutla mungkin belum sampai di Istana. Tetapi masuk ke ruang kelas, di pasar dan rumah-rumah. Polutan udara yang meningkat puluhan kali lipat, telah menembus ke paru-paru anak bayi, ibu-ibu hamil, anak sekolah, hingga ke pekerja buruh.
Karhutla telah memicu krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 283rb lebih kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) periode Agustus-Oktober. Tercatat di tujuh provinsi yang terdampak karhutla. Belum pada dampak ekonomi. Hutan yang terbakar bukanlah sekadar kumpulan pohon dan tanah. Didalamnya terkandung value ekonomi yang terkadang sulit diterjemahkan. Ia menjadi ruang hidup bagi satwa liar dan tumbuhan, tak terkecuali manusia.

Lalu satelit Nasa menunjukkan konsentrasi karbon monoksida, peta tersebut menampilkan data sebaran karbon monoksida pada ketinggian sekitar 18.000 kaki di atmotfer. Tampak area berwarna merah pekat membentang pada keseluruhan wilayah Indonesia. Warna merah pekat menandai konsentrasi gas karbon monoksida (CO) yang sangat ekstrem dan tinggi. Karbon ini merupakan gas yang terbentuk dari pembakaran tidak sempurna dari bahan yang mengandung karbon. Sumbernya dapat diperoleh dari kebakaran hutan dan lahan.
Setidaknya dari beberapa orang mungkin bertanya. Misalnya, “Bagaimana karhutla bisa terjadi?”, atau “bagaimana kita memitigasi karhutla?”. Soal dampak, sudah kita hadapi. Fenomena yang mungkin mendukung adalah istilah El-Nino dan semacamnya, lalu kemudian memicu krisis iklim yang ekstrem. Barangkali kita sedang bersembunyi dibalik istilah yang berkembang. Kita tidak begitu pandai melihat pada akar permasalahannya.

Lalu presiden menyebut dalam istilah yang dilontarkan, terorisme ekologi. Entah apa dan bagaimana maksudnya. Pada saat yang sama, pertemuan antar investor digelar di Ibu Kota melalui Investor Daily Summit pada awal Oktober 2026. Pemerintah melalui utusan khusus presiden bidang iklim dan energi, mewacanakan 12 juta hektare hutan yang terbakar untuk ditanami kelapa sawit. Alih-alih memulihkan ekosistem hutan yang terbakar, mengubahnya menjadi perkebunan sawit yang monokultur adalah jalan pintas.
Istilah hutan rusak atau yang terbakar, tidak boleh secara serta merta diartikan sebagai lahan kosong. Hutan sering kali masih memiliki fungsi ekologis, menjadi habitat satwa, dan punya cara pulih tersendiri. Lagi-lagi dengan dalih ekonomi. Mengubah hutan yang terbakar menjadi perkebunan monokultur justru akan memicu deforestasi lanjutan. Berdasarkan kajian Koalisi Transisi Bersih, pemenuhan target biodiesel, kedepan berpotensi menciptakan deforestasi baru hingga 1,5 juta hektare.
Disinilah kita, sebagai spesies paling cerdas di bumi ini. Karena dengan keberadaan kita, selain daripada sebagai tanggung jawab moral untuk melihat persoalan yang kompleks. Tetapi pada dasarnya, karhutla adalah soal cerminan kita. Bahwa dibalik luasnya hutan yang terbakar, bagaimana dampak terhadap manusia. Ada satwa yang kehilangan tempat tinggalnya, ada keanekaragaman hayati yang tergerus. Disanalah sumber kehidupan yang mesti dijaga keberlanjutannya untuk setiap spesies.
17 Oktober 2026 – Ale Celebes/IA



